Jika setiap orang yang kita temui memiliki peran, maka kamu adalah peran yang tidak tergantikan.

Lagipula, bagaimana mungkin bisa melupakanmu begitu saja, ketika hampir setengah jalan yang kutempuh selalu ada kamu di situ. Bersamamu. Berdua denganmu…

Sampai kukira semua akan berakhir dengan indah, ternyata justru berakhir dengan pisah.

Namun, hidup harus berlangsung dengan dinamis, bukan seperti kita berjalan di atas landasan yang statis.

Sesal yang terbesit, tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Pada akhirnya, kita menempuh jalan yang berbeda dan kamu kembali asing dan menyingkir. Begitupun kesalahan yang pernah ada, menjadi pelajaran yang begitu berharga.

Tidak ada yang sia-sia.

Menghabiskan waktu bersamamu adalah salah satunya.

Terima kasih… Terima kasih banyak…

Dalam diamku, aku mendoakanmu selalu~

Banyak yang mengatakan menjadi orang tua adalah perjalanan hidup yang sangat panjang, tapi aku ingin sekali bisa merasakannya bersamamu kelak.

Bagaimana kamu tumbuh di dalam rahim dan segala hal pertama kali yang bisa membuat kikuk sekaligus bahagia. Tendangan pertama yang aku rasakan saat usiamu sudah memasuki beberapa minggu.

Tidak lama…

Rasanya sudah hampir 12 tahun lalu kita saling mengenal. Semua berawal dari ketidaksengajaan, karena kamu adalah salah satu teman karib mantan kekasihku di universitas.

Ya, jika kamu terlewat, kami sudah putus setelah menjalin hubungan jarak jauh yang cukup berat selama setahun lebih. …

Kita selalu berpikir kalau kita punya banyak waktu tentang banyak hal, sehingga menyepelekan hal-hal yang sebenarnya bisa segera kita lakukan.

“Entar…”

“Nanti…”

“Ya, gampang…”

“Tunggu, ya…”

Alasan apalagi yang mau kita lontarkan?

Padahal, tidak ada kata selamanya. Dan waktu tidak akan terulang kedua kalinya.

Usia manusia itu terbatas. Begitupun kehidupan.

Kenapa kita sering kali meniadakan itu?

Entahlah sampai sekarang, aku juga tidak tau jawabannya.

Hai, Tuan seperti yang aku sebutkan dalam judul,

Mungkin saat membaca tulisan ini kamu akan bertanya-tanya siapa gerangan “tuan berekspresi datar” yang kumaksud. Kalaupun kamu tidak akan membacanya, ya, tidak masalah. Toh, ini sekadar tulisan iseng yang tiba-tiba terbesit ingin kutulis.

Sebelum aku melanjutkan tulisan ini, izinkan aku menjelaskan beberapa…

Rumah sakit.

Mendengar atau melihat bangunan rumah sakit saja kadang membuat saya bergidik. Saya enggak pernah menyukai rumah sakit dan sebisa mungkin menghindarinya kalau enggak ada urusan yang genting.

Bukannya saya takut, hanya terlalu banyak kenangan yang kurang menyenangkan. Di rumah sakit, saya pernah mengantarkan almarhum Papa untuk cuci darah…

Apa sih yang ada di pikiranmu saat mendengar kata makanan?

Bagiku, makanan enggak cuma bikin kenyang. Namun juga bisa mengubah perasaanku.

Ketika aku ingin mengingat seseorang misalnya, melupakan rasa sedih, meluapkan rasa senang, atau cuma pengin bernostalgia, aku akan makan makanan tertentu. Terkadang membeli segelas minuman manis kekinian yang membuatku…

Media sosial emang jadi salah satu tempat untuk personal branding dan menemukan citra bagi masing-masing orang. Enggak terkecuali bagi para content creator. Bila beberapa taun yang lalu, profesi ini sering dianggap remeh karena keliatan “enggak menghasilkan”, eh setahun belakangan malahan banyak orang yang banting setir dan serius menekuni pembuatan konten.

Aku punya seorang sahabat baik yang aku kenal lewat Twitter, Dwi, namanya. Kami berkenalan di tahun 2011 dan baru bertemu di tahun 2015, itu pun hanya dua kali sebelum ia kembali ke Surabaya karena sakit.

Setaun kemudian, tepatnya di bulan Februari, aku mendapati kabar kalau Dwi meninggal dunia, di usianya…

Bella Zoditama

Tulisan panjang untuk cerita kehidupan yang pendek.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store